Putra Putri bangsa kau cerdaskan
Berbagai kebodohan kau hapuskan
Tetesan ilmu kau berikan
Untuk mencetak penerus yang kau harapkan
Kau tempat menimba ilmu yang abadi
Menjaga martabatmu adalah janji suci
Sampai mati kan kujunjung tinggi
Almamaterku...
Kau menyatu dalam nadi
Gunadarma
Almamater tercinta
Darimu kudapatkan ilmu yang berguna
Membangun bangsa dan negara
Tujuan utama seorang mahasiswa
Hidup mahasiswa...
Hidup Gunadarma...
Hidup bangsa Indonesia...
Mari kita saling berbagi ilmu yang berguna, karena sesungguhnya ilmu yang berguna tidak akan pernah hilang. baik untuk diri kita ataupun untuk orang lain.
Jumat, 28 April 2017
Nilai Budaya C.Kluckhonh
Orientasi
nilai budaya
Kebudayaan sebagai karya manusia memiliki system nilai. Menurut C.Kluckhohn dalam karyanya Variations in Value Orientation (1961) system nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia, secara Universal menyangkut 5 masalah pokok kehidupan manusia, yaitu:
Kebudayaan sebagai karya manusia memiliki system nilai. Menurut C.Kluckhohn dalam karyanya Variations in Value Orientation (1961) system nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia, secara Universal menyangkut 5 masalah pokok kehidupan manusia, yaitu:
1. Hakekat
hidup manusia (MH)
Hakekat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda secara ekstern, ada yang berusaha untuk memadamkan hidup, ada pula yang dengan pola-pola kelakuan tertentu menganggap hidup sebagai suatu hal yang baik, “mengisi hidup”
Hakekat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda secara ekstern, ada yang berusaha untuk memadamkan hidup, ada pula yang dengan pola-pola kelakuan tertentu menganggap hidup sebagai suatu hal yang baik, “mengisi hidup”
2. Hakekat
karya manusia (MK)
Setiap kebudayaan hakekatnya berbeda-beda, diantaranya ada yang beranggapan bahwa karya bertujuan untuk hidup, karya memberikan kedudukan atau kehormatan, karya merupakan gerak hidup untuk menambah karya lagi.
Setiap kebudayaan hakekatnya berbeda-beda, diantaranya ada yang beranggapan bahwa karya bertujuan untuk hidup, karya memberikan kedudukan atau kehormatan, karya merupakan gerak hidup untuk menambah karya lagi.
3. Hakekat
waktu manusia (WM)
Hakekat waktu untuk setiap kebudayaan berbeda; ada yang berpandangan mementingan orientasi masa lampau, ada pula yang berpandangan untuk masa kini atau masa yang akan datang.
Hakekat waktu untuk setiap kebudayaan berbeda; ada yang berpandangan mementingan orientasi masa lampau, ada pula yang berpandangan untuk masa kini atau masa yang akan datang.
4. Hakekat
alam manusia (MA)
Ada kebudayaan yang menganggap manusia harus mengeksploitasi alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin, ada pula kebudayaan yang beranggapan manusia harus harmonis dengan alam dan manusia harus menyerah kepada alam.
Ada kebudayaan yang menganggap manusia harus mengeksploitasi alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin, ada pula kebudayaan yang beranggapan manusia harus harmonis dengan alam dan manusia harus menyerah kepada alam.
5. Hakekat
hubungan manusia (MN)
Dalam hal ini ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia, baik secara horizontal (sesamanya) maupun secara vertikal (orientasi kepada tokoh-tokoh). Ada pula yang berpandangan individualistis ( menilai tinggi kekuatan sendiri ).
Dalam hal ini ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia, baik secara horizontal (sesamanya) maupun secara vertikal (orientasi kepada tokoh-tokoh). Ada pula yang berpandangan individualistis ( menilai tinggi kekuatan sendiri ).
Senin, 27 Maret 2017
Konsep Kebudayaan
PENGERTIAN
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah,
yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai
hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki
bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk system agama dan politik,
adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa,
sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia
sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika
seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya, dan
menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat
kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku
komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar, dan meliputi banyak
kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika
berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya
adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra
yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang
memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti
"individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam"
di Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya
dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam
anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan
pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka
yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya
meramalkan perilaku orang lain.
PANDANGAN TERHADAP KEBUDAYAAN
Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki sub-kebudayaan
(atau biasa disebut sub-kultur), yaitu sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit
perbedaan dalam hal perilaku, dan kepercayaan dari kebudayaan induknya.
Munculnya sub-kultur disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya karena
perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama, pekerjaan, pandangan politik
dan gender,
Ada beberapa cara yang dilakukan masyarakat ketika
berhadapan dengan imigran, dan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan asli.
Cara yang dipilih masyarakat tergantung pada seberapa besar perbedaan
kebudayaan induk dengan kebudayaan minoritas, seberapa banyak imigran yang
datang, watak dari penduduk asli, keefektifan, dan keintensifan komunikasi
antar budaya, dan tipe pemerintahan yang berkuasa. Kebudayaan didaerah Timur
Tengah dan Afrika Utara saat ini kebanyakan sangat dipengaruhi oleh nilai, dan
norma agama Islam, meskipun tidak hanya agama Islam yang berkembang di daerah
ini.
KEBUDAYAAN BANGSA TIMUR
Saat pertama kali kita mendengar bangsa timur, maka yang
pertama kali terlintas di pikiran kita adalah orang yang memiliki kulit sawo
matang, atau berkulit putih, bermata sipit dan juga ciri-ciri fisik lain yang
merupakan ciri khas dari bangsa timur atau orang-orang asia pada umumnya.
Bangsa timur identik dengan benua asia yang penduduknya
sebagian besar berambut hitam, berkulit sawo matang dan adapula yang berkulit
putih, bermata sipit. Sebagian besar cara berpakaian orang timur lebih sopan
dan tertutup mungkin karena orang timur kebanyakan memeluk agama islam dan
menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku. Namun di zaman yang sekarang ini
orang timur kebanyakan meniru kebiasaan orang barat. Kebiasaan orang barat yang
tidak sesuai atau bertentangan dengan kebiasaan orang timur dapat memengaruhi
kejiwaan orang timur itu sendiri.
Kepribadian bangsa timur dapat diartikan suatu sikap yang
dimiliki oleh suatu negara yang menentukan penyesuaian dirinya terhadap
lingkungan. Kepribadian bangsa timur pada umumnya merupakan kepribadian yang
mempunyai sifat ramah, bersahabat, tidak individualis, dan saling tolong
menolong satu sama lain. Bangsa timur pun umumnya memiliki sifat toleransi yang
tinggi. Kepribadian bangsa timur, kita tinggal di Indonesia termasuk ke dalam
bangsa timur, dikenal sebagai bangsa yang berkepribadian baik. Di dunia bangsa
timur dikenal sebagai bangsa yang ramah dan bersahabat. Meskipun begitu, baru
sedikit negara bangsa timur yang sudah maju perekonomiannya. Seperi Singapura,
Korea dan Jepang. Selain itu, negara lain masih tertinggal. Namun sekarang ini
banyak kebudayaan asing yang masuk secara jelas kedalam kebudayaan “kita”
bangsa timur, terutama hiburan. Seperti music, tarian dan film yang mungkin
tidak terlalu ssuai dengan adat dan istiadat bangsa timur. Ini yang menjadi pro
kontra dalam kehidupan globalisasi ini. Jika terlalu berlebihan maka akan
berdampak buruk bagi kebudayaan ini selanjutnya, untuk itu kita sekali lagi
dituntut untuk slalu pintar memilih dan menyaringnya.
Ilmu Budaya Dasar
Ilmu budaya dasar adalah pengetahuan yang diharapkan dapat
memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang langkah-langkah yang
dikembangkan menjadi masalah manusia dan kebudayaan.
Ilmu budaya dasar dikembangkan di negara indonesia sebagai
pengganti istilah “ Basic Humanities” dan beristilah ‘Humanities yang
artinya manusia yang berbudaya dan halus, kalau manusia mempelajari
“Humanities” manusia akan lebih mulia/manusiawi. bahkan sadar tak sardar
malaikat mengakui kemulian ( terdapat didalam al-quran).
Untuk mengetahui ilmu budaya dasar sebagai kelompok ilmu oleh Prof.Dr.Harsya Bachtiar yang mengatakan bahwa ilmu dan
pengetahuan dikelompokkan menjadi 3(tiga), yaitu :
1. Ilmu-ilmu Alamiah ( Natural
science )
Ilmu yang bertujuan mengetahui keteraturan hukum yang
terdapat di alam semesta ini, ilmu ini menentukan analisis yang
digeneralisasikan untuk mencari prediksi. Ilmu ini tidak mungkin 100%
benar dan 100% salah, kelompok ilmu alamiah yaitu :
astronomi,fisika,kimia,biologi,kedokteran dan mekanik
2. Ilmu-ilmu Social ( Social science
)
Ilmu yang mempelajari interaksi/hubungan antara
manusia. Dan ilmu ini tidak mungkin 100% benar, hampir mendekati
kebenarannya,kelompok ilmu sosiologi yaitu : sosiologi,politik,demografi,psikologi,antropologi sosial,sosiologi hukum.
3. Pengetahuan budaya (The
humanities)
Pengetahuan budaya bertujuan untuk memahami dan mencari arti
kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. dalam hal ini, metode pengungkapan
peristiwa-peristiwa dan pernyatan-pernyataan yang bersifat unik diunakan
dan kemudian diberi arti. Pada umumnya semua itu terdapat tulisan-tulisan dan
tidak ad sangkut pautnya dengan metode yang bersifat ilmiah.
TUJUAN
Tujuan belajar ilmu budaya dasar untuk membentuk pola
pemikiran manusia lebih kritis dalam suatu permasalahan dan melatih cara
berkomunikasi antar satu sama lain. Di samping itu bisa membangun mahasiswa
agar menjadi calom pemimpin bangsa dan negara yang di siplin dan menjunjung
nilai-nilai kebudayaan negaranya sendiri.
TOPIK
Rumusan masalah-masalah yang akan dikaji dalam Ilmu Budaya
Dasar diformulasikan ke dalam satu tema, yaitu menusia sebagai makhluk Budaya.
Tema ini akan dikembangkan lebih lanjut ke dalam delapan pokok bahasan, dan sub
pokok bahasan, yaitu :
1. Manusia dan cinta kasih
- Cinta antara pria dan wanita
- Kekeluargaan
- Persaudaraan
2. Manusia dan keindahan
- Kontemplasi
- Ekstasi
3. Manusia dan penderitaan
- Nasib buruk
- Penyesalan
- Kehilangan yang dicintai
4. Manusia dan keadilan
- Rasa keadilan
- Perlakuan yang adil
5. Manusia dan pandangan hidup
- Cita-cita
- Kebajikan
6. Manusia dan tanggung jawab
serta pengabdian
- Kesadaran
- Kewajiban
- Pengorbanan
7. Manusia dan kegelisahan
- Keterasingan
- Kesepian
- Ketidakpastian
8. Manusia dan harapan
- Kepercayaan diri
- Gairah mengatasi kesulitan
Dari pengembangan masalah-masalah tersebut di atas nampak
sekali bahwa orientasi dalam Ilmu Budaya Dasar memang tidak terlepas dari masalah-masalah
manusia dan kebudayannya.
Kedelapan pokok bahasan (beserta sub pokok bahasan) tersebut
di atas pada dasarnya termasuk dalam karya-karya yang tercakup dalam
pengetahuan budaya (the humanities).
Dan sebagaimana dikemukakan, untuk mendekati masalah yang
akan dikaji dengan Ilmu Budaya Dasar, bisa digunakan cabang-cabang pengetahuan
budaya, baik secara sendiri-sendiri maupun gabungan antara berbagai bidang.
Perwujudan mengenai cinta kasih, misalnya terdapat dalam karya-karya sastra,
tarian, music, filsafat, lukisan, patung dan lain sebagainya yang semuanya
merupakan benda-benda budaya. Untuk itu poko bahasan mengenai manusia dan cinta
kasih dapat didekati dengan menggunakan karya-karya tersebut.
Dengan penyusunan tema-tema semacam itu, dimaksudkan agar
mahasiswa lebih mudah mengidentifikasikan dengan masalah yang dibahas dan untuk
menunjukkan bahwa hal-hal yang didiskusikan sesuai dengan pengalaman hidup
manusia.
Di samping itu agar mahasiswa juga dapat memperhatikan
norma-norma yang membantu pendidikan. Walaupun penyusunan semacam itu
diharapkan untuk mendekatkan dengan pengalaman mahasiswa, masih terbuka
kemungkinan untuk menyesuaikan dengan kondisi tempat belajar daerah setempat.
Langganan:
Postingan (Atom)


